ISNU Surabaya Dorong Deteksi Dini Perundungan di Sekolah melalui Analisis Sosiometri dan Aplikasi ALMAS



 



SURABAYA – Kasus perundungan atau bullying di lingkungan sekolah masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menunjukkan tren kekerasan terhadap anak, termasuk bullying, terus meningkat dalam kurun waktu 2021–2025. Bahkan, pada awal tahun 2025 saja, Kemen PPPA mencatat sedikitnya 4.664 kasus kekerasan terhadap anak.

Merespons kondisi tersebut, Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kota Surabaya mengambil peran aktif dalam upaya pencegahan perundungan di lingkungan pendidikan. Bersama Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) dan Berkreasi sebagai pengembang aplikasi ALMAS (Analisis Sosiometri untuk Sekolah Aman), ISNU Kota Surabaya menyelenggarakan Workshop Nasional Deteksi Dini Perundungan di Sekolah, Senin (12/1), bertempat di Gedung Unusa Tower.

Kegiatan ini diikuti para guru dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) se-Kota Surabaya. Workshop berfokus pada penggunaan analisis sosiometri sebagai metode ilmiah untuk memetakan relasi sosial antarsiswa, sekaligus pemanfaatan aplikasi ALMAS sebagai alat bantu digital deteksi dini potensi perundungan.

ISNU: Perundungan Ancaman Serius bagi Pembentukan Karakter Anak

Ketua PC ISNU Kota Surabaya, Dr. Ahmad Bashri, S.Pd., M.Pd, dalam sambutannya menegaskan bahwa perundungan bukan sekadar persoalan kedisiplinan siswa, melainkan masalah serius yang berdampak langsung pada pembentukan karakter dan kesehatan mental peserta didik.

“Sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi tumbuh kembang anak. Namun realitas hari ini menunjukkan bahwa perundungan masih menjadi ancaman nyata. Jika tidak ditangani sejak dini, dampaknya dapat merusak kepercayaan diri, karakter, bahkan masa depan anak-anak kita,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa ISNU sebagai organisasi cendekiawan NU memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk mendorong lahirnya ekosistem pendidikan yang ramah anak, aman, dan beradab.

“Melalui kolaborasi dengan UNUSA dan Berkreasi, kami menghadirkan pendekatan ilmiah berbasis analisis sosiometri serta dukungan teknologi melalui aplikasi ALMAS. Ini adalah ikhtiar konkret ISNU Surabaya untuk membantu sekolah mendeteksi potensi perundungan sebelum terjadi kasus yang merugikan anak didik,” lanjutnya.

Ketua ISNU Surabaya juga mengapresiasi keterlibatan para guru sebagai garda terdepan dalam membangun budaya sekolah yang sehat dan inklusif.

UNUSA: Dari Pendekatan Reaktif Menuju Prediktif

Rektor UNUSA, Prof. Dr. Ir. Tri Yogi Yuwono, DEA, IPU, ASEAN.Eng, dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun ekosistem pendidikan bebas kekerasan. Ia menggambarkan sekolah sebagai mikrosistem sosial, tempat interaksi siswa membentuk pola relasi yang kompleks dan berpotensi melahirkan konflik tersembunyi.

“Selama ini penanganan bullying cenderung reaktif. Kita baru bergerak setelah ada laporan. Padahal, data adalah kekuatan. Dengan analisis sosiometri, sekolah dapat beralih dari pendekatan reaktif menuju prediktif,” ujarnya.

Menurutnya, analisis sosiometri memungkinkan guru memetakan relasi sosial siswa untuk mendeteksi siapa yang mulai terasing sebelum menjadi korban, serta siapa yang berpotensi menjadi pelaku dominasi negatif.

Ia menyebut metode ini sebagai ‘radar psikososial’ di lingkungan sekolah. Data yang dihasilkan dapat mengungkap siswa yang jarang dipilih dalam interaksi kelompok atau mengalami isolasi sosial — sinyal awal risiko perundungan.

“Tugas kita bukan hanya mengajarkan pelajaran akademik, tetapi memastikan tidak ada satu pun anak yang merasa sendirian di tengah keramaian,” tegasnya.

ALMAS: Inovasi Digital untuk Sekolah Aman

Dalam workshop ini, Berkreasi memperkenalkan Aplikasi ALMAS, sebuah platform digital yang dikembangkan untuk membantu sekolah melakukan analisis sosiometri secara lebih praktis, terukur, dan sistematis. Melalui ALMAS, guru dapat menginput data interaksi sosial siswa dan memperoleh peta relasi kelas secara visual, sehingga potensi perundungan dapat dikenali lebih cepat dan akurat.

Kolaborasi antara ISNU Surabaya, UNUSA, dan Berkreasi ini diharapkan menjadi model sinergi antara organisasi masyarakat, perguruan tinggi, dan inovator teknologi dalam menciptakan solusi nyata bagi dunia pendidikan.

Perspektif Keagamaan dan Akademik

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. H. A. Sruji Bahtiar, menyoroti perundungan dari perspektif keagamaan. Ia menekankan pentingnya perbaikan hati dan pembentukan mentalitas yang sejahtera sebagai fondasi mencegah perundungan.

“Apa yang kita pikirkan akan membentuk kata-kata yang kita ucapkan, lalu menjadi tindakan, kebiasaan, karakter, dan akhirnya mentalitas. Semua harus dimulai dari perbaikan hati,” tuturnya.

Sementara itu, Pakar Sosiologi Universitas Negeri Jember (UNEJ), Dr. Rojabi Azharghany, memaparkan hasil risetnya terkait perundungan di sekolah berasrama. Ia menemukan bahwa tekanan aktivitas dan pelimpahan tanggung jawab berlebihan pada anak kerap memicu praktik perundungan.

“Yang lebih memprihatinkan, masih ada anggapan bahwa perundungan adalah bagian dari pendidikan mental. Ini harus diluruskan. Perundungan adalah tindakan salah yang harus dihentikan,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa analisis sosiometri tidak hanya membantu menemukan korban, tetapi juga mengidentifikasi pelaku agar intervensi dapat dilakukan secara tepat.

Komitmen ISNU Surabaya untuk Sekolah Ramah Anak

Melalui workshop ini, ISNU Kota Surabaya menegaskan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam penguatan kualitas pendidikan, khususnya dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan.

“Kami berharap workshop ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan nyata di sekolah-sekolah. Dengan pendekatan ilmiah, dukungan teknologi ALMAS, serta sinergi semua pihak, kita optimistis dapat menekan angka perundungan di Kota Surabaya,” tutup Ketua ISNU Kota Surabaya.


0 Komentar

Terbaru